ISNU Kabupaten Malang Opini Santri, Kemandirian dan Masa Depan Dunia: Meneguhkan Nilai di Tengah Arus Narasi Negatif

Santri, Kemandirian dan Masa Depan Dunia: Meneguhkan Nilai di Tengah Arus Narasi Negatif

Santri, Kemandirian dan Masa Depan Dunia, Meneguhkan Nilai di Tengah Arus Narasi Negatif

isnukabmalang.com – Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Malang, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., menghadiri Sidang Terbuka Wisuda Strata Satu (S-1), Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ibnu Sina Malang, Sabtu (18/10/2025). KH. Abdullah SAM duduk sebagai Wakil Ketua STIT Ibnu Sina Malang bersama jajaran pimpinan lainnya seperti Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag., dan Dr. Noer Rochmah, M.Pd.I..

Pada acara yang berlangsung di Gedung Kesehatan Kabupaten Malang itu, Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin memberi ucapan selamat kepada wisudawan yang telah menuntaskan studinya di STIT Ibnu Sina Malang. Kiai yang gemar beternak kambing itu menyampaikan pesan bahwa harus diingat sebagai santri harus tetap berpikir masa depan.

“Santri adalah masa depan dunia, beradab, pembelajar, humanis, dan mandiri”, kata KH. Abdullah SAM.

Semangat Tak Nampak dari Pesantren

Di balik dinding sederhana pesantren, masa depan sedang dirancang dengan cara yang tak selalu tampak. Kadang cara-cara baik yang diajarkan oleh kiai kepada para santri kerap disalahartikan karena ketidaktahuan, misleading informasi atau alasan lainnya. Oleh karenanya, kiai terkadang dianggap semena-mena, mementingkan urusan sendiri, memperkaya diri atau alasan lainnya seperti yang baru-baru ini dinarasikan oleh TRANS7 pada Senin (13/10/2025) lalu kepada salah satu kiai sepuh dan pondok pesantren ternama.

Padahal, di antara lantunan ayat suci Al-Qur’an dan kajian kitab kuning, lahirlah generasi yang siap mewarnai peradaban baru dan merekalah yang disebut santri. Tidak sekadar penuntut ilmu agama, santri hari ini adalah potret manusia pembelajar yang berakhlak, beradab, humanis, dan mandiri.

Baca juga: ISNU Kab Malang Kutuk Keras Liputan Xpose Uncensored TRANS7, Lecehkan Marwah Kiai dan Santri

Santri, Kemandirian dan Masa Depan Dunia, Meneguhkan Nilai di Tengah Arus Narasi Negatif - ISNU 2
Pimpinan: Ketua PC ISNU Kabupaten Malang, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd., beserta jajaran pimpinan STIT Ibnu Sina Malang

Sebentar lagi, khalayak pesantren bakal memperingati Hari Santri Nasional pada 22 Oktober nanti, sebuah momentum yang bukan hanya mengenang sejarah resolusi jihad, tetapi juga meneguhkan peran santri di tengah perubahan dunia. Naif jika peran santri yang sedemikian itu dirusak oleh narasi tendensius yang berusaha mendelegitimasi makna santri.

Jika dulu santri turun ke medan perjuangan melawan penjajah, kini mereka berjuang di medan baru yakni dunia digital, sosial, ekonomi, dan moral. Dunia sekarang yang serba cepat menuntut keseimbangan antara ilmu dan nilai, antara kemajuan dan kebijaksanaan, dua hal yang justru menjadi napas panjang tradisi pesantren.

Ketika Pesantren Disalahpahami

Publik dikejutkan oleh tayangan Xpose Uncensored di salah satu stasiun televisi nasional (TRANS7, red). Program tersebut menampilkan potongan kehidupan pesantren dan kiai dengan narasi yang dinilai melecehkan, menggambarkan pesantren sebagai tempat feodal dan kiai sebagai sosok yang dimanjakan oleh santrinya. Tak ayal tayangan itu menuai kecaman luas.

Persoalannya bukan semata pada visual yang ditampilkan, tetapi pada cara pandang yang keliru terhadap kultur pesantren. Tradisi santri menghormati kiai, tawaduk, menunduk, mencium tangan, bahkan ‘ngesot’ untuk sowan sering disalahpahami sebagai bentuk penghambaan. Padahal, itu adalah wujud adab atau penghormatan terhadap ilmu dan guru.

Pesantren dibangun di atas nilai-nilai adab, bukan kekuasaan. Di dalamnya, tidak ada paksaan, tidak ada feodalisme, yang ada adalah kesadaran spiritual dan cinta ilmu. Mereka yang pernah mondok tahu betul bahwa setiap langkah kecil santri dalam melayani kiai bukan bentuk pengabdian buta, melainkan latihan batin untuk menundukkan ego. Nilai-nilai ini justru hilang di banyak institusi pendidikan modern.

Ada sebuah pepatah berbunyi, adab itu lebih tinggi daripada ilmu. Di lingkungan pesantren, santri tumbuh dengan fondasi adab, menghormati guru, memuliakan ilmu, menundukkan ego di hadapan pengetahuan. Inilah yang membuat santri menjadi oase moral di tengah krisis nilai.

Baca juga: Ribuan Santri Geruduk Polres Malang, PCNU Serukan Boikot TRANS7

Santri, Kemandirian dan Masa Depan Dunia, Meneguhkan Nilai di Tengah Arus Narasi Negatif - ISNU 1
Wisudawan: KH. Abdullah SAM, Ketua PC ISNU Kabupaten Malang bersama Wisudawan STIT Ibnu Sina Malang Tahun Akademik 2025-2026

Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat pembentukan karakter yang mengajarkan bahwa menjadi manusia berarti tahu menempatkan diri. Dari sinilah dunia bisa belajar bahwa kemajuan tanpa adab hanyalah kesombongan yang dibungkus kecanggihan.

Tradisi ngaji di pesantren sejatinya adalah bentuk pendidikan paling progresif. Di tengah perubahan zaman, santri justru menjadi sosok adaptif dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan. Untuk itulah, santri harus nenjadi pembelajar sepanjang zaman.

“Kita sebagai santri jangan berpuas diri harus terus belajar dan meng-upgrade diri kapanpun. Dan menjadi pembelajar sepanjang hayat”, jelas KH. Abdullah SAM.

Pesantren mengajarkan bahwa ilmu tanpa kemanusiaan adalah sia-sia. Para kiai mendidik santrinya untuk dapat memanusiakan manusia, dimana tumbuh karakter humanis, sikap yang menempatkan manusia di atas kepentingan materi.

Santri terbiasa hidup dalam perbedaan. Mulai dari pojok kamar, mereka terbiasa kumpul dengan latar belakang berbeda-beda. Ada yang dari petani, nelayan, pejabat, bahkan yatim piatu. Mereka hidup bersama, belajar bersama, saling membantu. Tak ada yang lebih tinggi dari yang lain, karena di pesantren ukuran kemuliaan bukanlah harta, tapi keikhlasan dan kebermanfaatan.

Mandiri dan Berdaya

Kiai sebagai guru, pengasuh dan pemimpin senantiasa mengusahakan kemandirian ekonomi untuk menunjang berjalannya kehidupan di pesantren. Para kiai terkadang memiliki lebih dari satu usaha. Bahkan dari usaha-usahanya mampu untuk menggratiskan santri-santrinya, termasuk yang dilakukan salah satunya oleh KH. Abdullah SAM di Pesantren Rakyat Al-Amin, pesantren yang didirikannya di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Kini banyak pesantren menjadi pusat pemberdayaan ekonomi. Jadi, tidak benar jika ada narasi kiai kaya dari santri, dari amplop wali santri dan sebagainya.

“Kyai yang kaya itu bukan dari santri. Para kiai rata-rata punya usaha atau pondoknya punya badan usaha, seperti Kiai Ghofur di PP Sunan Drajat Lamongan, atau PP Sidogiri dengan BMT dan unit-unit usahanya. Bahkan banyak kiai yang punya pondok gratis karena mereka berdikari dan berkhidmah,” tutur KH. Abdullah SAM.

Lebih daripada itu, kiai turut membekali para santri untuk belajar berwirausaha, mengelola pertanian, peternakan, perbengkelan hingga mendirikan startup berbasis sosial. Mereka tidak hanya membaca kitab, tetapi juga membaca peluang.

“Jadi bukan untuk memperkaya kiai, tetapi merupakan bagian dari proses pembelajaran yang manfaatnya kembali kepada santri itu sendiri”, kata Pengasuh Pesantren Rakyat Al-Amin.

Santri dan Masa Depan Dunia

Dunia yang sedang goyah membutuhkan keseimbangan baru antara akal dan nurani, antara sains dan spiritualitas. Santri hadir untuk menjembatani dua dunia itu. Mereka tidak menolak kemajuan, tetapi juga tidak rela kemanusiaan ditinggalkan.

Science without religion is lame (sains tanpa agama lumpuh), religion without science is blind (agama tanpa sains buta)”, ungkapan seorang ilmuwan, Albert Einstein yang sering dikutip oleh KH. Abdullah SAM.

Baca juga: MoU PC ISNU Kabupaten Malang & Universitas Kepanjen, Dorong Terbentuknya Kampus DQ Pertama di Malang

Santri, Kemandirian dan Masa Depan Dunia, Meneguhkan Nilai di Tengah Arus Narasi Negatif - ISNU 3
Pengkader: KH. Abdullah SAM selalu mendorong santri-santrinya untuk terus belajar dan meng-upgrade kualitas diri, menjadi pembelajar seumur hidup

Maka, ketika kita berbicara tentang masa depan dunia, sejatinya kita berbicara tentang masa depan yang beradab. Santri adalah simbol harapan, generasi yang berpikir global, tapi berhati lokal, ‘think globally, act locally’, cinta tanah air sekaligus terbuka pada kemajuan peradaban.

Mendelegitimasi peran santri merupakan penghilangan akar sejarah bangsa Indoensia. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini masih memiliki sumber kekuatan moral yang kokoh di tengah gempuran zaman. Santri bukan hanya masa lalu perjuangan, tetapi juga masa depan peradaban.

Dan di tangan mereka, dunia punya harapan untuk tetap menjadi tempat yang beradab, pembelajar, humanis, dan mandiri. (cha)

0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *