ISNU Kabupaten Malang Opini KH. Abdullah SAM: Pesantren Jangan Diam, Kuasai Media!

KH. Abdullah SAM: Pesantren Jangan Diam, Kuasai Media!

KH. Abdullah SAM, Pesantren Jangan Diam, Kuasai Media!

isnukabmalang.com – Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kabupaten Malang, Dr (c). KH. Abdullah SAM, S.Psi., M.Pd. menjadi narasumber Halaqoh Pesantren dan Media Malang Raya di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Jumat (31/10/2025). Kegiatan ini lahir dan digagas oleh Pimpinan Cabang Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PC RMI NU) Kabupaten Malang.

Pada kesempatan itu, KH. Abdullah SAM memantik diskusi dengan gaya khasnya, santai tetapi sarat dengan pesan filosofis. Ia membuka forum tersebut dengan kalimat yang mengundang tawa peserta. “Saya ini bukan anaknya kiai, jadi saya bikin pesantren supaya bisa disebut kiai”, katanya disambut tawa.

Namun di balik candanya, terselip pesan serius bahwa menjadi kiai, santri, atau lembaga pesantren di era digital tidak cukup hanya mengandalkan ceramah di mimbar atau pengajian di surau. Pesantren juga harus hadir di ruang-ruang yang belum terisi, apalagi sekarang di ruang digital. Menurutnya, pelabelan terhadap apa yang kita lakukan sangat penting.

“Bagaimana kita memperkenalkan diri ke dunia luar dan melabeli apa yang kita lakukan itu penting”, paparnya.

Abdullah bercerita bahwa sejak awal mendirikan pesantren, bahkan sebelum bangunan berdiri sempurna, ia sudah membuat website. “Karena mengenalkan sesuatu paling mudah, cepat dan menjangkau ruang yang luas adalah mengisi ruang maya”, imbuhnya.

“Saya paham, kalau kita tidak mengisi ruang digital dengan kebaikan, maka orang lain akan mengisinya dengan kebohongan,” ujar Penggagas Pesantren Rakyat itu.

Baca juga: Halaqah Media PC RMI NU Malang: Pesantren Harus Rebut Ruang Publik Digital!

KH. Abdullah SAM, Pesantren Jangan Diam, Kuasai Media! - 1
Pembukaan: Ketua PC ISNU Kabupaten Malang (jas kanan) menjadi narasumber Halaqoh Pesantren dan Media Malang Raya di Pendopo Agung Kabupaten Malang

Mempertegas apa yang disampaikannya, KH. Abdullah SAM kemudian mengutip sebuah teori klasik dari Joseph Goebbels, seorang tokoh Propaganda Nazi Jerman, tentang prinsip The Big Lie atau kebohongan besar. “Kebohongan yang terus diulang akan dianggap kebenaran”, jelasnya.

“Begitu besar pengaruh media, sampai-sampai yang tidak benar bisa tampak benar kalau disampaikan terus-menerus”, tambah kiai yang memiliki julukan Kyai Sableng itu.

Ia mengaitkannya dengan situasi saat ini, di mana narasi-narasi negatif tentang pesantren dan kiai sering kali lebih cepat menyebar dibanding kisah inspiratif para santri. Apalagi jika sebagai kiai dan santri yang lebih mengetahui bagaimana pesantren seharusnya tetapi tidak menyebarkannya di ruang digital, maka tinggal menunggu waktu makna positif pesantren akan segera luntur.

Bagi KH. Abdullah SAM, diam di tengah derasnya arus informasi adalah bentuk kehilangan kendali atas narasi. Karena itu, ia mendorong agar setiap pesantren memiliki atau membentuk tim pengelolaan media mulai dari website, Youtube, Facebook, Instagram, hingga TikTok. “Ayo kita kuasai media”, pesannya.

Bahkan, dalam kesempatan itu, Abdullah mencontohkan bagaimana berita tentang kegiatan Halaqoh ini langsung terbit tak lama setelah acara dibuka. “Setelah sambutan Ketua RMI, berita sudah tayang”, katanya dengan senyum lebar.

“Ini yang kami lakukan di ISNU. Menulis itu tidak butuh waktu lama, asal mau menulis. Karena jika kita menunggu sempurna, berita baik akan selalu kalah cepat dari berita buruk”, tuturnya dengan menampilkan website isnukabmalang.com

Namun, KH. Abdullah SAM tidak menutup mata terhadap kenyataan bahwa masih banyak pesantren yang belum akrab dengan teknologi. Ia bercerita tentang pengalamannya ketika sowan ke salah satu pengasuh pesantren yang menolak pemasangan jaringan internet.

“Waktu itu saya bilang, ini mau pasang Wi-Fi kiai, bukan pasang internet, Kiai. Kalau Wi-Fi bisa buat lihat Kakbah, ngaji, dan lain-lain”, kisahnya, disambut gelak tawa hadirin.

Cerita ringan itu menjadi cermin tantangan besar di dunia pesantren hari ini, bagaimana menjembatani antara kiai sebagai pengasuh dengan generasi santri yang digital native dan haus ruang ekspresi. “Inilah tugas para gus dan nawaning muda”, tambahnya.

Baca juga: Ribuan Santri Geruduk Polres Malang, PCNU Serukan Boikot TRANS7

KH. Abdullah SAM, Pesantren Jangan Diam, Kuasai Media! - 2
Pemantik: KH. Abdullah SAM (kanan) menyampaikan materi pentingnya penguasaan media untuk pesantren

Dalam pandangan KH. Abdullah SAM, masa depan dakwah pesantren ditentukan oleh keberanian santri menulis, merekam, dan berbagi. “Kalau bukan kita yang menulis tentang pesantren, maka orang lain yang akan menulis versi mereka,” tutup kiai yang juga Wakil Direktur Pesantren Center Nusantara ini.

Halaqoh Pesantren dan Media Malang Raya tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, melainkan momentum reflektif tentang masa depan dunia pesantren. Bahwa kemandirian pesantren di era digital tak hanya bergantung pada ekonomi dan pendidikan, tapi juga penguasaan informasi.

Media bukan sekadar alat publikasi, tapi juga ruang dakwah. Di tangan santri, media bisa menjadi mimbar virtual yang menebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin ke seluruh penjuru dunia.

Kiai, Gawagis, Nawaning, Santri Duduk Bersama

Pada kegiatan tersebut, pengasuh pondok pesantren, gawagis, nawaning dan pegiat media pondok Malang Raya melebur dalam kegiatan. Halaqoh ini seperti yang disampaikan oleh Ketua PC RMI NU Kabupaten Malang, Dr. KH. Agus Ikhwan Mahmudi menjadi ruang dialog pengembangan media pondok pesantren.

“Tidak boleh kalau pesantren disorot negatif lalu kita diam saja. Kita harus menggiatkan hal-hal positif, mengabarkan nilai-nilai baik agar masyarakat tahu pesantren itu sumber pencerahan,” tegasnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah tokoh penting, antara lain Wakil Ketua PWNU Jatim, Gus Hakim Jayli, Ketua PC RMI Kota Malang, Dr. KH. Halimi Zuhdy, Ketua PC RMI NU Kota Batu, Gus Aan, Rois Syuriah PCNU Kota Batu, KH. Sirojudin dari PCNU Kota Batu, dan Sekretaris PC LPTNU Kabupaten Malang, Dr. Hj. Noer Rochmah, M.Pd.I.

Lebih lagi, tampak hadir juga Anggota DPRD Jawa Timur Komisi E, Hikmah Bafaqih, Asisten I Pemprov Jawa Timur, Direktur Pesantren Center Nusantara, Dr. KH. Abdurrahman Said dan komunitas Media Pondok Jawa Timur. Tak kurang dari 300 perwakilan pesantren se-Malang Raya turut serta, menjadikan halaqoh ini bukan sekadar pertemuan, tapi sebuah gerakan kultural yang bernilai strategis. (cha)

Penulis: Chandra Djoego

1 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *